SLEMAN, iNewsboyolali.id - Sebanyak 30 anggota pramuka Saka Wirausaha DIY terpilih untuk mengikuti Inkubasi Bisnis Saka Wirausaha Tahap 2 Tahun 2026. Mereka berasal dari empat kabupaten di DIY yang disiapkan menjadi pengusaha Muda Mandiri.
Program tersebut menjadi wadah strategis bagi anggota Saka Wirausaha untuk mempertajam keterampilan kewirausahaan, menyusun rencana bisnis, sekaligus mendorong inovasi produk olahan lokal yang berdaya saing. Pada tahap kedua ini, penyelenggara mematangkan konsep standarisasi kecakapan baru berbasis Syarat Kecakapan Inkubasi atau Syarat Kecakapan Khusus Krida.
Berbeda dari tahun lalu, program inkubasi kini dirancang setiap dua tahun sekali. Selama camp inkubasi, para peserta diuji secara langsung oleh mentor dalam tiga kemampuan utama, yakni penyusunan perencanaan usaha, penganggaran, serta kemampuan presentasi dan public speaking.
“Peserta yang dinyatakan layak akan menerima kualifikasi kecakapan beserta dukungan modal pembinaan berbasis apresiasi prestasi melalui skema insentif,” kata Majelis Pembimbing Saka Wirausaha DIY, Biohadikesuma, Senin (21/9/2026).
Menurut dia, program ini didorong untuk membentuk pola belajar mandiri bagi para peserta. Pihaknya ingin setiap peserta memiliki standar kemampuan yang terukur, sehingga usaha yang dihasilkan setelah lulus dari inkubasi benar-benar memiliki kualitas bagus dan siap bersaing di pasar.
Para peserta yang merupakan hasil seleksi Perkemahan Tahap 1 pada Juli lalu ini menjalani serangkaian kegiatan mulai dari pendalaman materi, ujian kecakapan, pitching, hingga pembuktian perkembangan usaha melalui produk, nota, dan dokumen transaksi real.
Program inkubasi ini turut melahirkan cerita inspiratif dari para pelajar SMK di Gunungkidul. Yogi Alfarisi, siswa kelas 11 SMKN 1 Saptosari yang berprofesi sebagai fotografer lepas di Pantai Sepanjang dengan omzet hingga Rp2 juta per hari saat akhir pekan.
“Saya ingin menambah ilmu dan mengumpulkan modal untuk membeli kamera sendiri,” katanya.
Sementara itu, Sintia Angel Rahmawati, siswi kelas 12 SMKN 1 Tanjungsari, mengolah potensi perikanan Pantai Baron menjadi produk praktis berupa sambal goreng tuna, cumi, lumpia ikan, dan otak-otak untuk membantu meningkatkan angka konsumsi ikan masyarakat.
Editor : Tata Rahmanta
Artikel Terkait
